Berhubungan Seks Saat Masih Muda, Apa Risikonya?

jpg

Berhubungan Seks Saat Masih Muda, Apa Risikonya?

AirAsiaQQ – Sebuah pertanyaan besar terlintas dengan jelas di dalam benak kebanyakan orangtua saat anak-anak mereka mulai asyik berkencan: Apakah mereka berhubungan seks? Pada umumnya di Indonesia, usia minimal seseorang boleh terlibat pada sebuah hubungan seksual yakni 16 tahun.

Namun, mempunyai hubungan pacaran yang stabil pada usia sangat muda akan meningkatkan risiko hubungan seks di usia dini, sama halnya mempunyai teman-teman di kelas yang lebih tinggi, sering mengunjungi situs jejaring sosial, serta menghabiskan sedikit waktu bersama teman-teman sebaya.

Peningkatan risiko ini bisa dijelaskan setidaknya sebagian, oleh kerentanan terhadap anak-anak ABG pada tekanan sosial di lingkungan pergaulan maupun identitas diri dan nilai serta norma personal yang masih terbentuk. Bahkan bila anak Anda tidak aktif secara seksual, risiko penyalahgunaan zat maupun masalah perilaku lainnya dapat semakin meningkat jika banyak dari teman-temannya yang berhubungan seks.

Usia dari seorang wanita yang mempunyai bayi pertama pun menjadi sebuah faktor penting, menurut salah satu studi dari 20.000 wanita oleh International Agency for Research on Cancer. Sebaliknya, merokok serta jumlah pasangan seksual yang sudah lama dianggap menjadi sebuah faktor penting tak menjelaskan adanya perbedaan. Capsadomino.net

Stacy Armour, yang merupakan seorang co-penulis studi dan juga mahasiswa doktorat sosiologi di Ohio State University, menjelaskan jika studi ini tak akan menyimpulkan jika kegiatan seks itu sendiri akan berujung terhadap masalah perilaku, tetapi, keputusan untuk terlibat pada seks di usia terlalu muda jauh sebelum rata-rata remaja pada umumnya maupun batas usia legal merupakan sebuah penyebab keprihatinan. Justru, studi ini menunjukkan bagaimana pentingnya bertindak pada batas-batas normal bagi kelompok usia anak. AGEN QQ

Ilmuwan Ohio State sendiri menggunakan hamster, yang mempunyai kemiripan fisiologis pada manusia, supaya belajar dengan khusus bagaimana tubuh dapat merespon aktivitas seksual pada awal kehidupan untuk memberikan informasi yang mungkin berlaku dalam memahami perkembangan seksual manusia.

Peneliti menyatakan bagaimanapun, jika penelitian ini tidak boleh digunakan dalam mempromosikan pantang remaja, sebab mereka mencatat penelitian tersebut dilakukan pada hamster dan itu tidak terdapat sebuah kepastian jika kesimpulan dapat berlaku sama persis bagi manusia. Dengan begitu, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami dampak dari seks ketika masa pubertas.

Yang dijadikan sebagai benang merah dari semua penelitian di atas bahwasannya seks itu sendiri tidak terus menjadi masalah perilaku, namun waktu inisiasi seksual penting agar dapat dipertimbangkan. Remaja harus berada pada tahap saat perkembangan fisik, emosional, maupun mental mereka benar-benar matang untuk mulai berhubungan seks. DOMINOQQ  

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*